Pemilwa Fakultas Ushuluddin: Mencari Bau Busuk yang Paling Unggul dari Masing-masing Partai

 

Pemilwa Fakultas Ushuluddin: Mencari Bau Busuk yang Paling Unggul dari Masing-masing Partai

Penulis: Poor Ayam

(Download pdf: Pemilwa Fakultas Ushuluddin: Mencari Bau Busuk yang Paling Unggul dari Masing-masing Partai)

___

“Okelah kalau tahun lalu Pemilwa dilakukan secara daring, mengingat kondisi berbahaya dari Covid-19. Begitu juga dengan pelaksanaan perkuliahan. Tapi mengapa sekarang Pemilwa tetap dilakukan secara daring juga? Seakan hal ini memberi gambaran bahwa pelaksanaan secara daring dapat mempermudah kelicikan salah satu pihak dan tuduhan hal tersebut menurutku lebih cocok dilontarkan kepada Partai Rakyat Merdeka.”

___

 

Hal menarik kali ini ingin kutitikberatkan pada Fakultas Ushuluddin yang katanya mengkaji rangkaian keilmuan berbasiskan dasar-dasar keislaman. Perlu pembaca ketahui, bahwa kepolosanku mungkin dapat dikatakan menjadi dasar utama atas curhatanku ini, dari hal itu aku berangkat untuk memantau rentetan demi rentetan dalam timeline yang tertera dan pelaksanaannya di wilayah Fakultas tersebut.

Sejauh ini aku melihat ada dua partai yang mempunyai daya saing terkuat dalam meraih kursi kekuasaan Fakultas Ushuluddin, yakni Partai Rakyat Merdeka dan Partai Pencerahan. Aku mengakui mereka cukup keren dalam “mendandani” kebodohan agar terlihat pintar dalam mengajukan janji-janji utopis yang dibungkus dengan gaya romantis, padahal ada perang dingin yang anarkis dan baunya sangat amis.

Menurut sebagian kalangan, Partai Rakyat Merdeka merupakan partai yang paling laris jualan janji sampai saat ini. Konon katanya partai tersebut selalu mengajukan kader-kader hebat dan berintegritas sehingga dapat berkuasa penuh terhadap berbagai jabatan yang ada. Mulai dari HMPS, DEMA sampai PRESMA-nya pun dari partai tersebut.

Sebaliknya, Partai Pencerahan merupakan saingan utama dari partai yang sebelumnya sudah aku deskripsikan. Partai Pencerahan jika dilihat-lihat, seakan hanya berisi umpatan-umpatan karena selalu kalah sejak dahulu. Agaknya dapat dikatakan bahwa jualan janji alay Partai Pencerahan kurang menarik minat dari sebagian kalangan, dan hal inilah yang menjadikan Partai Pencerahan mengalami kekalahan demi kekalahan hingga saat ini.

 

Antara Partai Rakyat Merdeka dan Partai Pencerahan di Fakultas Ushuluddin

Jujur, aku hampir muntah karena tingkahku sebelumnya mendeskripsikan kedua partai tadi. Ternyata seperti biasa, ada saja bau busuk yang harus kucari titiknya. Hal ini aku lakukan agar para pembaca yang budiman tidak terhipnotis dengan bau busuk tersebut.

Langsung saja aku akan mulai dengan pembahasan menarik. Pertama, ternyata pencoblosan yang bertepatan pada tanggal 23 Desember 2022 nanti akan dilakukan secara daring. Aneh bukan? Sungguh pembodohan yang luar biasa. Mengapa? Karena setahuku sejauh ini perkuliahan saja yang merupakan aspek paling utama di kampus sudah aktif secara luring, bahkan ujian pun sebagian besar seperti itu. Begitu juga perihal Pemilwa sebagai ajang mahasiswa untuk melatih soft skill-nya. Artinya Pemilwa juga merupakan aspek primer yang hanya berbanding tipis dengan urgensi perkuliahan.[1]

Okelah kalau tahun lalu Pemilwa dilakukan secara daring, mengingat kondisi berbahaya dari Covid-19. Begitu juga dengan pelaksanaan perkuliahan. Tapi mengapa sekarang Pemilwa tetap dilakukan secara daring juga? Seakan hal ini memberi gambaran bahwa pelaksanaan secara daring dapat mempermudah kelicikan salah satu pihak dan tuduhan hal tersebut menurutku lebih cocok dilontarkan kepada Partai Rakyat Merdeka.

Kedua, aku melihat serunya para orator muda yang kalau dilihat-lihat lebih mirip acara Pemilihan Dai Cilik (PILDACIL) RCTI. Mereka menunjukkan lambaian tangan ke kanan dan ke kiri sambil menganga-nganga. Tindakan yang sama juga dilakukan oleh para pendukung masing-masing partai. Semua saling tuduh tidak toleran, pokoknya mulut-mulut mengeluarkan bau busuk secara bersamaan saat itu.

Dari hal ini aku mengajak para pembaca untuk mencoba melihat sejenak ke dalam hati masing-masing. Apakah pendapat aku tadi benar adanya. Kalau salah mungkin karena keterbatasan personil yang menyalonkan. Barangkali kader-kader yang dicalon oleh masing-masing partai merupakan “boneka” yang terbaik di antara yang terburuk. Artinya masih buruk meski tidak terlalu buruk.

Ketiga, yaitu nasib para petugas KPUM yang sudah mengarahkan perihal aturan yang harus ditaati oleh para peserta, terkhusus ketika berlangsungnya kampanye. Adanya sampah bekas puntung rokok, gelas Aqua berserakan, sampai azan Asar berkumandang pun mereka tetap sibuk berorasi. Mungkin pembaca juga risih dengan hal yang cenderung sepele ini, namun bau busuk tetaplah busuk.

Keempat, ini yang paling penting. Karena bau busuk yang lebih unggul malah muncul pada Partai Rakyat Merdeka. Saya katakan wajib atas para pembaca untuk tahu bau busuk ini. Terlebih para pembaca sekalian yang tidak ikut menghadiri kampanye pertama kemarin. Mungkin disibukkan dengan ujian karena kebetulan Pemilwa kali ini dilaksanakan bersamaan dengan berlangsungnya ujian. Sungguh sangat mencengangkan bahwasannya yang terjadi jauh sekali dari peraturan yang telah disampaikan oleh para panitia KPUM.

Berbeda dengan hal ketiga sebelumnya, bisa aku katakan ini merupakan perbuatan yang paling fatal, yakni pulangnya para anggota Partai Rakyat Merdeka yang katanya telah menampung aspirasi para mahasiswa sejak tahun 90an.[2] Sungguh mengecewakan sekali. Awalnya aku berusaha untuk mengulik kebusukan antarmasing-masing partai. Ternyata kebusukan tersebut dimenangkan oleh Partai Rakyat Merdeka. Mungkin karena terlalu sering memenangkan Pemilwa sehingga membuat mereka seperti itu. Pentingnya mereka juga tetap yakin akan kemenangan yang juga akan dicapai pada Pemilwa kali ini.

Setidaknya aku cukup mengerti dengan bau busuk yang lebih unggul dari mereka. Bagaimana pendapat pembaca yang budiman? Jawab pakai hati, ya. Kebusukan ini perlu untuk dipahami demi kesejahteraan bersama. Apapun yang anda lakukan, hancurkan yang terkenal, dan cintai yang mencintai anda. Salam cinta! Salam Pergerakan!

 

 

Setiap penyalahgunaan harus direformasi, kecuali jika reformasi lebih berbahaya daripada penyalahgunaan itu sendiri.

—Voltaire—

 

 



[1] Lihat Undang-Undang Senat Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga tentang Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) hlm. 3-8.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa di Fakultas Ushuluddin? Kader PMII UIN Suka Dong yang Pasti Menang

PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan

Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga