PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan

PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan

Oleh: Poor Ayam


(Download pdf: PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan)


 

Masih dalam konteks organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lingkup UIN Sunan Kalijaga dalam rentang waktu 2019—2022.

 

Apa yang kalian lihat pada setiap kegiatan “bocah-bocah” PMII di lingkungan UIN Suka? Aku menilai “abang-abang aktipis” itu tidak lebih dari sekadar sebuah aksi “kebodohan”. Sebut saja salah satunya penolakan ketua DEMA terhadap Dana Cita yang disepakati kerja samanya oleh UIN Suka beberapa bulan yang lalu.[1] Lebih mendalam, pangkal dari pembahasan itu dilandasi semangat mengkritik atas UKT mahal UIN Sunan Kalijaga.

 

Melihat Sejenak ke Belakang

Logikaku tidak mampu memahami kenapa topik pembahasan yang berkibar di website-website berafiliasi PMII seperti geger.id dan ashrambangsanews.com, selalu membahas tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mahal. Kenapa aku tidak mampu memahami? Karena jauh sebelumnya organisasi “biru-kuning” ini kerap mengkritik habis-habisan pihak kampus ketika beredar berita bahwa ada mahasiswa drop out sebab tidak mampu membayar biaya kuliah.

 

Bentuk kepedulian pihak kampus sebetulnya terlukis pada perjanjian yang terhimpun dalam Memorandum of Understanding (MoU) No. 009/MOU/DC/BD/11/22, alias program Dana Cita. Kenapa bisa aku sebut sebagai bentuk kepedulian? Karena pihak kampus menyadari banyak mahasiswa yang tidak mampu membayar UKT saat deadline penyetoran dana tiba. Maka jembatannya adalah pengadaan program Dana Cita itu.

 

Pada akhirnya, protes pihak mahasiswa yang dilayangkan dari anggota PMII tentang UKT mahal, didengarkan pihak kampus. Pengaktualisasian pihak kampus dari kritik itu adalah wujud program Dana Cita, benar atau tidak? Hal ini menjadi fakta di UIN “Suka-Suka”. Hal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa tidak terbebani di penghujung deadline pembayaran UKT, berupa program penyicilan pembayaran UKT.


Bunga dalam Pinjaman

Dari sudut pandang ilmu perbankan, kita mengerti ada dua jenis bunga; bunga pinjaman dan bunga simpanan. Program Dana Cita yang menjadi fasilitas UIN Suka, adalah bunga pinjaman. Maka tidak heran bila ada tambahan muatan dana dalam pembayaran, karena sistemnya adalah cicilan. Ada bunga? Itu pasti. Jika kalian telusuri perusahaan manapun yang menyediakan jasa peminjaman uang, adakah yang tanpa bunga?

 

Kritik lebih lanjut kepada kampus dari “abang-abang aktipis” PMII ini ialah halal-haram bunga dalam sistem Dana Cita. Padahal konteks Dana Cita di sini sebagai sistem perbankan yang tidak membicarakan halal-haram. Aku lihat anggota PMII di sini memiliki standing point yang lebih condong ke arah kuatnya ghirah dan nilai keagamaan.

 

Tapi coba kita sandingkan dengan momentum pembubaran acara PBAK 2022.  PBAK yang merupakan ruang Pengenalan Budaya Akademik Kampus dan bukan aksi demonstrasi sentimen. Namun pada kenyataannya mereka mengalami logical fallacy dalam aktivitasnya, serta tidak memahami dengan baik tata letak suatu persoalan.

 

 Sehingga saat Rektor membubarkan acara PBAK di hari ke-3 karena buruknya etika mahasiswa (mayoritasnya diulahi dari kalangan PMII) yang “ngangong-ngangong” UKT mahal. Begitu pak Rektor menjelaskan pembubaran acara PBAK adalah hasil istikharah, “olok-olokan” dari anggota PMII serentak menggema di setiap dinding kampus dan media sosial.

 

Berdasarkan tinjauan salah satu artikel dalam website geger.id, dengan jernih “bocah-bocah” PMII “mengolok-olok” pihak kampus (dalam format gambar) memakai kalimat:

 

Beli satu dapet dua

UKT mahal bayarnya

Malah nyediain Dana Cita

Tolol kan ya.

 

Bukannya bahagia

Tapi malah berbunga

Otak Rektorat dimana coba?[2]

 

Dapat kita lihat perbandingan yang cukup kontras. Pada awalnya mereka menjunjung tinggi nilai keagamaan melalui sudut pandang halal-haram. Tetapi kemudian mereka “mengolok-olok” orang yang mengambil keputusan melalui proses istikharah. Padahal keduanya (halal-haram dan istikharah) adalah nilai keagamaan. Tidak salah jika aku melihat PMII seakan organisasi Islam “munafik”.

 

Nasihat untuk Adek-adek Calon Kader

Elektabilitas anggota PMII yang menyebar ke pelbagai tubuh struktural kampus sangatlah dipertanyakan. Bagaimana mungkin status “ketua” dapat melekat kepada seseorang yang tidak menguasai uraian sederhana semacam ini.

 

Aku menaruh harapan kepada “adek-adek” calon kader supaya memperbaiki nasib PMII di kemudian hari; menggunting rantai kebodohan yang menginfeksi para ketua yang masih menjabat periode ini. Baik dalam tubuh struktural organisasi PMII sendiri maupun kampus.

 

Melalui tinjauan hermeneutics of suspicion, para anggota yang menjabat menjadi petinggi PMII, dan menyelinap masuk ke tubuh struktural kampus, kritikan mereka tidak lebih sekadar untuk membangun eksistensi dirinya. Ada banyak sekali titik koordinat yang bisa dikritik andai mereka memiliki wawasan yang mumpuni. Tetapi karena “kedangkalan wawasan dan kecacatan berpikirnya,” yang dikritik selalu saja “UKT mahal”.

 

Ketika aku mengharapkan balasan ruang dialektika dari kamu (abang-abang aktipis PMII), ternyata kalian hanya diam. Seakan semua ini bukan persoalan dirimu. Maka jelaslah yang kugambar; diam adalah tidak bergerak, dan bergerak adalah untuk mendiamkan. Sorakkan! Salam Pergerakan!

 

“Intelektual adalah seseorang yang ikut campur

dengan apa yang bukan urusannya.”

 

Jean-Paul Sartre



[1] Informasi dari website: http://www.ashrambangsanews.com/2022/08/dema-uin-suka-tolak-fintech-dana-cita.html. Aku ambil informasi ini karena ketua DEMA UIN Suka yang menolak program Dana Cita merupakan salah satu anggota “fanatik” PMII.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa di Fakultas Ushuluddin? Kader PMII UIN Suka Dong yang Pasti Menang

Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga