Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga

 

Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga

Penulis: Poor Ayam

 

(Download pdf: Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga)

___

“..organisasi PMII ini sebetulnya memberi ruang untuk mengasah intelektual atau memberi ruang untuk berseksual?”

___


 

Masih dalam konteks organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lingkup UIN Sunan Kalijaga dalam rentang waktu 2019—2022.

 

Alih-alih mewariskan nasihat Pramoedya Ananta Toer "Adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan", akan menjadi suatu hal yang sangat kontradiktif jika manusia tak mampu menyatakan sikap saat kekerasan melanda temannya, terlebih yang telah kita anggap keluarga sendiri. Terus menggaungkan nama baik serta menutup mata pada suatu kekerasan adalah tindakan yang amat “munafik”.

 

Dengan itu, mungkin kita perlu mematikan suatu sistem yang telah mapan terstruktur. Sehingga tak akan ada lagi perspektif yang muncul dengan wacana seorang senior “memburu” perempuan bertubuh langsing, mancung, putih, dan “sexy” di suatu organisasi.

 

Begitu juga sebaliknya. Bila suatu paradigma berpikir salah kaprah itu masih berkibar dan mengakar, dampak negatif yang datang akan lebih banyak. Otomatis benih kecacatan akan tumbuh subur terhadap kepercayaan diri, hingga menjadi keangkuhan yang tak disadari.

 

Kasus Pelecehan Seksual

Informasi ini berawal aku dapat dari postingan akun Instagram aktivismahasiswa.ind berjudul “Pemburu Memek Institusi Islami”.[1] Dalam penjelasan media terkait, pada tahun 2020 saudara Dias (oknum) dari organisasi PMII ini dinyatakan sebagai pelaku pelecehan seksual kepada AH.[2] Yang lebih memalukan, Dias dilindungi oleh kedua temannya; Wildan[3] dan Jazuli.[4] Permasalahannya adalah pelaku tetap mendapat ruang berorasi di publik. Ditambah tidak adanya tindakan lanjutan mengenai kasus pelecehan seksual oleh oknum tersebut.

 

Aku katakan ini mulai tidak waras dan bisa disebut sudah sampai pada taraf “gila”. Dengan hati nurani dan akal yang masih normal, fakta ini mampu mendorong kita untuk bangun dan melihat kenyataan yang ada untuk berempati. Sebenarnya ini sesuatu yang ironi atas semua yang telah terjadi, pihak-pihak yang ada pada golongannya tidak mampu memberi tindakan dan dibiarkan begitu saja seperti angin yang terhempas hilang.

 

Baiklah, mungkin ada beberapa hal yang dapat dikatakan “demi kemaslahatan bersama”, “jangan lihat sesuatu ketika buruknya saja”, “jangan sampai karena nila setitik, rusak susu sebelangga”. Tapi perlu diketahui bahwa permasalahan sebenarnya adalah pantaskah hal tersebut didiamkan? Pantaskah demi kemaslahatan hal tersebut tidak diusut?

 

Menengok Kembali Visi-Misi PMII

Dari visi dan misi PMII,[5] cukup jelas betapa kita melihat PMII sebagai organisasi mulia yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Bukan hanya itu, visi-misi mereka juga memaparkan ideologi Pancasila, ideologi-ideologi pendidikan, analisis sosial Karl Marx, serta kajian gender dan feminisme. Tetapi menurutku yang menjijikan adalah mereka menaruh seluruh visi-misi itu dengan percaya diri tanpa ada aktualisasi di lapangan.

 

Kita semua tahu jargon “Salam Pergerakan” dengan mengangkat tangan kanan sambil mengepal, menjadi ciri khas “pose takbir” mereka seusai melaksanakan suatu acara. Jelas di situ tertulis “pergerakan”, tetapi untuk membekuk oknum pelecahan seksual saja mereka tidak mampu. Apakah hal itu hanya karena pelaku “dekat” dengan para petinggi jabatan PMII? Semudah itu untuk berkamuflase dari kekejaman? Di mana hati nurani yang mereka miliki? Di mana aktualisasi visi-misi yang mereka tulis itu?

 

Semua yang terjadi adalah panggung sandiwara belaka. Menurut aku, tindakan dari organisasi ini telah menimbulkan bias yang sangat memalukan dan memuakkan bagi para pendahulu mereka. Hidup pada lingkungan organisasi bernotabene “organisasi yang menjunjung tinggi intelektualitas dan nilai-nilai agama”, ternyata selalu ada senior yang meludahi esensi visi dan misi untuk menurunkan harkat organisasinya sendiri.

 

Betapa sedihnya, jika kasus ini tidak selesai diusut. Sedangkan perempuan sudah terlampau banyak menerima catatan tak masuk akal yang disematkan dalam bungkus “demi kemaslahatan”.

 

Ingat! Kasus yang masih belum tertransparansi akan tetap menjadi aib, membusuk, hingga akan menginfeksi kecacatan pada adek-adek kader selanjutnya. Ini menjadi pertanyaan penting dan semoga menggugah pikiran menyadarkan. Aku mempertanyakan, organisasi PMII ini sebetulnya memberi ruang untuk mengasah intelektual atau memberi ruang untuk berseksual? Aku tunggu tindak lanjut kalian (para petinggi PMII) untuk merespons tulisan ini.

 

Tentu kita semua tidak ingin organisasi PMII sebagai lahan subur atas beternaknya aksi-aksi bejat yang mengotori kandungan nilai-nilai keislaman. Ingat, Poor Ayam akan selalu di pihak kalian yang tertindas. Teman-teman sekalian, jika kalian setuju dengan tulisan ini, mari kita sebarkan bersama. Jangan takut! Salam pergerakan!

 

 

 

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

— Tan Malaka —



[1] https://www.instagram.com/p/CifsdlLJNUE/?igshid=NjZiMGI4OTY=. Diakses pada 13 Oktober 2022. Akun aktivismahasiswa.ind juga mendapatkan informasi dari akun Instagram idn.grassroots.

[2] AH sekadar inisial. Hal ini dalam upaya menjaga keamanan serta kesehatan psikis korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum anggota PMII.

[3] Wildan adalah senior dari saudara Dias yang ketika mengetahui temuan ini, ia tidak bersikap. Justru malah menutup-nutupi perlakuannya serta menyembunyikan bukti-bukti otentik aksi bejat Dias. Di sisi lain, Wildan juga tidak mensosialisasikan temuan menjijikan ini kepada teman-teman AH sesama organisasi.

[4] Jazuli sebagai Ketua Komisariat PMII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bertindak tak acuh atas track record saudara Dias. Jazuli juga sebagai orang yang memberi panggung bagi Dias untuk tetap berorasi di hadapan massa.

[5] Pembaca bisa lihat dalam buku Modul MAPABA 2021 hlm. 63-72 dan Modul Pelatihan Kader Dasar 2022 hlm. 96-100.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa di Fakultas Ushuluddin? Kader PMII UIN Suka Dong yang Pasti Menang

PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan