Pemilwa di Fakultas Ushuluddin? Kader PMII UIN Suka Dong yang Pasti Menang

 

Penulis: Poor Ayam

_____

Tapi sebelum itu, aku senang banget loh. Setelah aku “digantung” selama satu tahun, baru kali ini Poor Ayam di-mention di website PMII Ushuluddin (geger.id). Alhamdulillah otak para kadernya masih bisa sedikit mikir dan nulis (aku bersyukur kepada Tuhan), meskipun baru bisa kasih respon setelah satu tahun lebih. Oh my God, please deh.

_____

 

Sedikit Curhat

Mohon maaf sebelumnya, aku takut mbiyangeetzz kalau harus menampilkan identitas asli, takut diteror sama “abang-abang aktipis”. Jadi aku low profile aja deh ya hffft… Buat adek-adek maba, tolong baca sampai habis, ya. Biar kalian tau gimana kualitas dan moralitas abang-abang organisasi kalian (Si Paling Senior oopss..). Dan jangan kaget kalau nanti kalian mendengar pembelaan abang-abang senior kalian yang sangat “pintar” dan “jago ceramah” itu. Hehe bercyanda bangs. Oke next.

Tahun lalu, 2022, tepatnya berkisar dari bulan September sampai Desember, aku melontarkan banyak kritik ke berbagai organisasi. Kebetulan yang paling “busuk” dan “otoriter” adalah PMII, maka organisasi itulah yang paling banyak aku “jitak” ndase hehe. Nanti akan aku jelasin. Tapi sebelum itu, aku senang banget loh. Setelah aku “digantung” selama satu tahun, baru kali ini Poor Ayam di-mention di website PMII Ushuluddin (geger.id). Alhamdulillah otak para kadernya masih bisa sedikit mikir dan nulis (aku bersyukur kepada Tuhan), meskipun baru bisa kasih respon setelah satu tahun lebih. Oh my God, please deh.

Antara senang dan sedih. Menurut bang Kirwan (ketua redaksi harianindo.co) aku disebut media anonim yang provokatif. Sedangkan menurut bang Fadli (“calon” Dema FUPI) aku dianggap pengumbar kebencian. Padahal yang aku tulis pada artikel-artikel sebelumnya hanya membahas satu hal: tentang perbaikan moralitas dan integritas anggota partai. Tapi ya namanya nasib, aku diwarnai dengan cap-cap negatif.

Padahal juga Poor Ayam hadir jauh sebelum Pemilwa tiba (bulan September), tapi dituduh “media provokator” yang muncul secara mendadak untuk mengganggu ketertiban Pemilwa.[1] Tuh kan, jurnalis PMII Ushuluddin sendiri juga “prematur” dalam menganalisis informasi. Belajar lagi ya adek-adekku sayang.

 

Sistem Pemilihan Umum Mahasiswa

Kalau dilihat dari Modul Pelatihan Kader Dasar (2022) PMII Ushuluddin, isinya sih cukup keren ya. Membahas tentang konsep psikoanalisis Sigmund Freud, psikosufistik al-Ghazali, sejarah terbentuknya PMII, sampai strategi dan taktik pergerakan. Kutipan referensinya pun lumayan terlihat “intelektual”. Tapi para anggotanya? Duh ini yang sangat disayangkan.

Memang betul, sistem pemilihan secara daring tertera pada UU Pemilwa. Dan mekanisme pemilihan menggunakan Sistem Informasi Akademik (SIA) serta dikelola oleh PTIPD Universitas. Tapi, come on lah, aku (mungkin juga kita) udah tau semua ketika proses counting suara berlangsung seperti apa. Ada aktivitas-aktivitas “gelap” yang terjadi di dalam “ruangan” itu.

Pertanyaanku sederhana, mau sampai kapan praktik seperti itu dilanggengkan? Mau sampai kapan kalian (abang-abang aktipis senior) mengirim “boneka-boneka” tidak berkualitas sebagai calon HMPS, DEMA, SEMA, PRESMA? Jika ingin bertarung, bertarunglah secara intelektual di arena perdebatan akademik, jangan hanya beraksi di balik ruangan counting suara. Aku udah muak banget deh liat hal-hal kek gitu.

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang ada di Modul PKD 2022 sangat jelas membahas tentang tauhid, hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam. Belum lagi dengan 9 harakah: 1) harakah Islamiyyah, 2) harakah fikriyyah, 3) harakah sya’biyyah, 4) harakah ukhuwwah, 5) harakah ra’iyyah, 6) harakah tsaqafiyyah, 7) harakah ijtima’iyyah, 8) harakah iqtishadiyyah, dan terakhir 9) harakah hurriyah. Aku copy ya tulisan dari Modul PKD 2022, halaman 57:

Dari 9 (sembilan) rumusan nilai-nilai dasar yang dijelaskan di atas, kemudian diseimbangkan dalam penerapannya, maka kita sebagai kaum gerakan dan aktor organisatoris akan mencapai totalitas pengabdian sebagai hamba Allah, sebagai khalifah di Bumi. Totalitas yang akan menjadi semangat dan ruh bagi kita dalam mewarnai hidup ini, tidak semata-mata dengan pertimbangan ketuhanan belaka, tetapi dengan pertimbangan kemanusiaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Coba kamu bayangin, kutipan di Modul PKD itu Islami banget kan? Demokratis banget kan? Mengandung nilai-nilai kemanusiaan kan? Sangat transparansi kan? Tapi kok bisa ya sistem pemilihannya menggunakan model daring (online)? Tentu pembelaan mereka seperti ini, “Loh jelas itu kan sesuai yang ada di UU Pemliwa” atau "Itukan sesuai prosedural pihak kampus." Pasti hanya itu jawaban khas mereka. Sangat kritis dan bijaksana, ajaib.

Emang seyakin apa kalau model pemilihan secara daring itu bakal jujur dan adil? Yakin? Ah masa sih? Ah beneran po? Serius ngga tuch? Hehe cerdas banget adek-adek pengkaderan ini.

 

“Salam Pergerakan! Bersatu Membangun Demokrasi (Oligarki)”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan

Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga