Praktik Premanisme PMII: Sebuah Pesan untuk Anggota Struktural

 Praktik Premanisme PMII: Sebuah Pesan untuk Anggota Struktural

Penulis: Poor Ayam

 

(Download pdf: Praktik Premanisme PMII; Sebuah Pesan untuk Anggota Struktural)

___

“..dari berita yang aku terima, tulisan Poor Ayam hanya direspons dengan nyinyiran sepotong dua potong kata. Ditambah stiker kontraproduktif di berbagai platform media sosial oleh kader-kader mereka yang jarang diberikan nutrisi pengetahuan.”

___

 

Sini aku kasih nutrisi sejarah untuk kebekuan otak kalian (semua anggota struktural PMII) yang membabi-buta. Aku tidak yakin kalian lupa akan sejarah berdirinya PMII, yang aku yakini adalah kalian melupakannya secara tidak sengaja. Prejudice ini bukan tanpa alasan, melainkan pembacaan aku terhadap minimnya kader PMII yang memiliki nomenklatur atau karya lainnya dengan fokus pembahasan tentang ke-NU-an maupun ke-Aswaja-an. Tidak muluk-muluk menagih kalian untuk memperlihatkan naskah Khittah NU, mungkin aplikasi NU Online saja tidak ada dalam smartphone kalian.

 

Imbas dari kemiskinan minat baca ini adalah munculnya kerancuan definisi kritis. Praktik kritis yang diejawantahkan oleh para “cecunguk” ini bermuara pada aksi perlawanan yang minus kajian. Sebut saja UKT yang sebenarnya sengaja dijadikan polemik untuk dapat dibuat sebagai panggung oleh para kader hingga senior yang haus eksistensi, baik di luar maupun di dalam dunia birokrasi kampus. Tujuannya adalah untuk menaikkan elektabiliats politik yang tidak dapat terangkat dengan kemahiran bersilat lidah. Terlebih, kajian memalukan tentang “Dana Cita” impact dari bekunya nalar kritis untuk menemukan polemik seksis lainnya.

 

Sudah terlampau banyak afirmasi yang aku dengar tentang kebekuan nalar “gerbong-gerbong biru kuning” ini. Karena aku tidak memiliki kepentingan untuk memperhatikan urusan dapur kalian (entah karena kalian takut dengan partner dialektika atau memang “kolot” tidak mau diperbaiki) maka yang akan aku kupas adalah tentang munculnya gerakan premanisme yang membuat malu umat Islam terlebih cendekiawan Muslim pesantren, atau NU lebih tepatnya.

 

Sebelum lahir, PMII banyak mendapat pertentangan dari tokoh-tokoh dan sesepuh NU. Argumen preventif kemungkinan PMII menjadi pemecah belah mahasiswa Islam menjadi tendensi kuat penghalang berdirinya PMII. IPNU yang masih eksis dan HMI yang cukup memobilisasi mahasiswa Islam dari berbagai ideologi, waktu itu dipandang dapat menjadi solusi untuk menghimpun kekuatan mahasiswa Islam.

 

Penentangan berlanjut pada Muktamar II IPNU di Pekalongan dengan alasan karena akan menjadi pesaing bagi IPNU yang juga merupakan organisasi underbow NU. Puncaknya, gagasan pendirian PMII dibawa ke Konferensi Besar (Konbes) IPNU I di Kaliurang pada tahun 1960. Sejauh perjalanan sebagai wacana, PMII akhirnya berdiri pada tahun 1960 di Surabaya.

 

Satu hal yang perlu diingat adalah meski sudah disepakati untuk membentuk organisasi mahasiswa, namun nama masih belum disepakati. Hingga dengan berbagai macam tawaran nama, PMII hadir sebagai nama yang dianggap ideal. Perlu dicatat dalam otak kalian, “pergerakan” yang dijadikan sebagai nama dalam organinisasi menuntut kadernya untuk senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya serta memberikan dampak baik terhadap alam dan ekosistemnya.

 

Jika dikorelasikan dengan gerakan yang dilakukan anak-anak PMII UIN Suka belakangan ini, seolah seperti “binatang buta” yang menabrak sana-sini tanpa ada pedoman. Sebuah aksi demonstrasi yang tidak bermoral dan tentu tidak memiliki role model.

 

Fenomena membakar ban di depan Gedung Rektorat tentu sangat jauh dari kata “berdampak baik terhadap alam dan ekosistemnya”. Lebih fundamental-normatif, tidakan tersebut sangat jauh dari tujuan PMII; “berbudi luhur dan berilmu” (buka saja buku saku MAPABA kalian, barangkali lupa karena terlalu sibuk melanggengkan anarkisme).

 

Selanjutnya, makna pergerakan adalah adanya upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuan tersebut selalu menuntun terhadap kualitas kekhilafahannya.

 

Upaya memobilisasi mahasiswa baru untuk melakukan perlawanan terhadap pihak Rektorat pada momen PBAK sangat menjurus kepada pembodohan masal. Tidak adanya konsolidasi maupun kajian panel dengan mengikutsertakan mahasiswa baru, mengindikasikan bahwa aksi tersebut bukan untuk menyuarakan keresahan mahasiswa baru. Apalagi hal tesebut sangat bertolak belakang dengan amanah UUD 1945 dalam hal “Mencerdaskan kehidupan bangsa”.

 

Dengan adanya fenomena tersebut, kiranya tidak berlebihan apabila menyebut PMII UIN Sunan Kalijaga merupakan organisasi premanisme dan pembodohan.

 

Perlu dicatat, tulisan ini tidak lahir dari kebencian dan ruang kosong. Tulisan ini lahir dari keresahan, kesadaran, dan rasa empati terhadap para korban sistem yang dibangun oleh organisasi PMII.

 

Sebelumya, dari berita yang aku terima, tulisan Poor Ayam hanya direspons dengan nyinyiran sepotong dua potong kata. Ditambah stiker kontraproduktif di berbagai platform media sosial oleh kader-kader mereka yang jarang diberikan nutrisi pengetahuan. Ini menujukkan di tubuh PMII UIN Suka sangat “bobrok” daya kritis. Bukan membalas dengan tulisan sebagai counter argument namun malah mengintimidasi. Sungguh respons yang sangat menggelikan dunia akademik.

 

Aku menunggu debat argumentasi kalian dalam bentuk tulisan. Singkatnya aku menantang anda menulis balasan untuk tulisan Poor Ayam yang telah tersebar. Jika tidak ada, maka jangan salahkan aku ketika mengatakan PMII UIN Suka tidak lebih sebagai organisasi premanisme dan pembodohan. Salam pergerakan!

 

 

 

“Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan. Apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan!”

 

—Wiji Thukul—

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa di Fakultas Ushuluddin? Kader PMII UIN Suka Dong yang Pasti Menang

PMII UIN Suka: Kemunafikan Bertopeng Pergerakan

Pelecehan Seksual oleh Anggota PMII UIN Sunan Kalijaga